Liputan Eka Satria, Pekanbaru
MOMEN mudik yang sudah jadi ritual tahunan umat muslim di Indonesia bagi pemerintah dan pihak pengelola angkutan menjadi beban berat. Karena banyak pihak yang terlibat baik secara struktural pemerintahan maupun dari sisi bisnis transportasi.
Salah satunya yang selalu aktif terlibat dalam momen mudik adalah pihak Organda, organisasi yang menaungi pengusaha angkutan umum. Untuk arus mudik lebaran di Riau sendiri, Organda telah melakukan berbagai persiapan mendukung kelancaran arus mudik maupun arus balik lebaran.
Seperti disampaikan Ketua DPC Organda Pekanbaru, Syaiful Alam bahwa pihak Organda sudah melakukan berbagai antisipasi. Disamping menyiapkan sejumlah kendaraan angkutan umum milik anggota Organda, tahun ini pihaknya masih tetap membutuhkan penambahan bus.
"Tahun lalu hampir ratusan bus yang kita datangkan dari Sumatera Barat, tetapi tahun ini sepertinya kita datangkan bus tambahan dari Sumut. Bus tambahan yang kita datangkan ini rata-rata bus pariwisata, dan bisa melayani penumpang hingga ke Pulau Jawa," ujarnya.
Tahun ini menurut Syaiful Alam Organda memperkirakan arus penumpang menuju Sumatera Utara dan pulau Jawa akan padat seperti terlihat di Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BPRS)
Organda Sesalkan Pemko
Masih maraknya terminal bayangan sampai saat ini juga disesalkan Organda karena seharusnya dalam momen mudik ini terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BPRS) berfungsi dengan baik. Namun kenyataannya masih banyak kendaraan angkutan umum Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) maupun bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) yang tidak menggunakannya.
“Itu (terminal bayangan) masih ada karena Pemko Pekanbaru tidak tegas. Kita sudah memberi himbauan kepada pemilik PO untuk masuk terminal, tapi kan Organda tak punya kewenangan menindak. Harusnya pihak yang berwenang bisa bertindak tegas,” ungkap Syaiful.
Antisipasi Kejahatan Selama Lebaran
Sementara itu, untuk mengantisipasi munculnyaa gangguan kriminalitas selama berlangsungnya arus mudik hingga selesai arus balik, pihak keamanan perlu memberikan jaminan keamanan bagi warga.
Demikian diharapkan anggota DPRD Riau Zulkarnain Noerdin SH terkait banyaknya rumah warga yang dalam keadaaan kosong ditinggal mudik. Kondisi tersebut menurut Zulkarnain akan memancing tindak kriminalitas bila tak diantisispasi sejak awal.
''Momen sangat menentukan kejahatan. Antisipasi kita harus lebih ekstra dari hari biasa. Selain itu juga harus ada koordinasi dengan instansi yang berkaitan langsung dengan keamanan,'' kata politisi Partai Bulan Bintang ini.
Anggota Komisi IV DPRD Pekanbaru, Roni Amriel SH juga urun saran terkait mudik lebaran tahun ini. Politisi Partai Golkar ini meminta instansi terkait harus benar-benar melakukan pengecekan terutama kelaikan kendaraan yang digunakan untuk angkutan Lebaran.
Secara khusus Roni menyoroti pengawasan pihak berwenang terhadap pemilik usaha otobus dimana inspeksi langsung harus dilakukan dengan objektif tanpa tebang pilih. Dengan demikian resiko dalam perjalanan mudik bisa ditekan.
"Arus transportasi yang padat saat mudik dan balik Lebaran memungkinkan terjadi potensi kecelakaan. Salah satu upaya pencegahan, yakni dengan memastikan kelaikan kendaraan. Ini harus benar-benar dilakukan oleh instansi terkait, khususnya Dinas Perhubungan," saran Roni Amriel . *3
MOMEN mudik yang sudah jadi ritual tahunan umat muslim di Indonesia bagi pemerintah dan pihak pengelola angkutan menjadi beban berat. Karena banyak pihak yang terlibat baik secara struktural pemerintahan maupun dari sisi bisnis transportasi.
Salah satunya yang selalu aktif terlibat dalam momen mudik adalah pihak Organda, organisasi yang menaungi pengusaha angkutan umum. Untuk arus mudik lebaran di Riau sendiri, Organda telah melakukan berbagai persiapan mendukung kelancaran arus mudik maupun arus balik lebaran.
Seperti disampaikan Ketua DPC Organda Pekanbaru, Syaiful Alam bahwa pihak Organda sudah melakukan berbagai antisipasi. Disamping menyiapkan sejumlah kendaraan angkutan umum milik anggota Organda, tahun ini pihaknya masih tetap membutuhkan penambahan bus.
"Tahun lalu hampir ratusan bus yang kita datangkan dari Sumatera Barat, tetapi tahun ini sepertinya kita datangkan bus tambahan dari Sumut. Bus tambahan yang kita datangkan ini rata-rata bus pariwisata, dan bisa melayani penumpang hingga ke Pulau Jawa," ujarnya.
Tahun ini menurut Syaiful Alam Organda memperkirakan arus penumpang menuju Sumatera Utara dan pulau Jawa akan padat seperti terlihat di Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BPRS)
Organda Sesalkan Pemko
Masih maraknya terminal bayangan sampai saat ini juga disesalkan Organda karena seharusnya dalam momen mudik ini terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BPRS) berfungsi dengan baik. Namun kenyataannya masih banyak kendaraan angkutan umum Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) maupun bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) yang tidak menggunakannya.
“Itu (terminal bayangan) masih ada karena Pemko Pekanbaru tidak tegas. Kita sudah memberi himbauan kepada pemilik PO untuk masuk terminal, tapi kan Organda tak punya kewenangan menindak. Harusnya pihak yang berwenang bisa bertindak tegas,” ungkap Syaiful.
Antisipasi Kejahatan Selama Lebaran
Sementara itu, untuk mengantisipasi munculnyaa gangguan kriminalitas selama berlangsungnya arus mudik hingga selesai arus balik, pihak keamanan perlu memberikan jaminan keamanan bagi warga.
Demikian diharapkan anggota DPRD Riau Zulkarnain Noerdin SH terkait banyaknya rumah warga yang dalam keadaaan kosong ditinggal mudik. Kondisi tersebut menurut Zulkarnain akan memancing tindak kriminalitas bila tak diantisispasi sejak awal.
''Momen sangat menentukan kejahatan. Antisipasi kita harus lebih ekstra dari hari biasa. Selain itu juga harus ada koordinasi dengan instansi yang berkaitan langsung dengan keamanan,'' kata politisi Partai Bulan Bintang ini.
Anggota Komisi IV DPRD Pekanbaru, Roni Amriel SH juga urun saran terkait mudik lebaran tahun ini. Politisi Partai Golkar ini meminta instansi terkait harus benar-benar melakukan pengecekan terutama kelaikan kendaraan yang digunakan untuk angkutan Lebaran.
Secara khusus Roni menyoroti pengawasan pihak berwenang terhadap pemilik usaha otobus dimana inspeksi langsung harus dilakukan dengan objektif tanpa tebang pilih. Dengan demikian resiko dalam perjalanan mudik bisa ditekan.
"Arus transportasi yang padat saat mudik dan balik Lebaran memungkinkan terjadi potensi kecelakaan. Salah satu upaya pencegahan, yakni dengan memastikan kelaikan kendaraan. Ini harus benar-benar dilakukan oleh instansi terkait, khususnya Dinas Perhubungan," saran Roni Amriel . *3
