TRAGIS nian nasib para pedagang kaki lima (PKL) Pasar Senggol Giant Panam, hanya 10 hari lagi jelang Hari Raya Idul Fitri, mereka ditimpa musibah kebakaran. Tak kurang dari 252 lapak yang ada hangus terbakar pada Senin (29/7), bahkan banyak pedagang yang tak mampu menyelamatkan barang dagangannya.
Isak tangis dan ratap pilu para pedagang hingga kebakaran berhasil dipadamkan masih terdengar. Mereka tak menyangka harus rela melepas harapan di sisa 10 hari jelang Ramadhan, dimana justru menjadi momen meraup omset lebih besar dari hari-hari biasanya.
“Allahu Akbar, hanya sebentar lagi Hari Raya, tapi takdir buruk buat kami. Padahal hari ini sampai lebaranlah waktunya mengejar omset penjualan. Malang sekejap mata,” tutur pilu Ani, salah seorang pedagang yang lapaknya ludes dilalap si jago merah.
Salah seorang pedagang yang juga bernasib sama, Herman, mengatakan karena sudah dekat lebaran maka banyak pedagang yang sengaja membawa stok barang yang ada di rumah ke kios.
“Itu karena pembeli biasanya makin banyak, kalau stok ada di sini semuanya kita menjualnya juga enak tidak kalang kabut cari-cari ukuran dan warna. Maklum pembeli banyak permintaannya. Tapi saya untung belum sempat bawa semua ke sini,” kata Herman.
Pihak pengelola Pasar Senggol Giant Panam, Yayasan Pekanbaru Metro Madani (YPMM) akhinya mencarikan solusi bagi pedagang agar secepatnya bisa kembali berjualan.
“Untuk sementara kita pindahkan ke lahan parkir bagian belakang Giant. Kita tempatkan para pedagang di sana,” jelas Ketua Dewan Pengawas di YPMM Hendra Bonju pada Pekanbaru MX, Senin (29/7).
Dikatakan Hendra, pihaknya akan berupaya meminta bantuan tenda dari Polda Riau. Namun ia masih terus menunggu informasi dari Kementerian Koperasi apakah ada penyediaan tenda atau tidak.
"Insyaallah dalam dua hari kedepan, pedagang bisa berjualan lagi," katanya.
Pasar senggol merupakan lapak yang dibangun Pemko Pekanbaru dalam setahun terakhir untuk menghindari pedagang berjualan di Pasar Jongkok di Jalan Subrantas, Panam. Para pedagang yang hendak berjualan harus menyetor uang sewa Rp 450 ribu perbulan melalui Bank.
Ketua Dewan YPMM Anis Mursil mengatakan uang sewa Rp 450 ribu tersebut merupakan jumlah yang disepakati antara pengelola dengan Pemko Pekanbaru. Dari uang sewa tersebut pedagang tak lagi dipungut uang listrik, retribusi dan uang kebersihan
"Di sana tidak ada lagi yang namanya uang SPSI, uang preman atau palak," terang Anis yang juga mantan tim sukses Firdaus MT saat Pilkada 2011 lalu.
Namun sejak lama kerjasama antara Pemko Pekanbaru dengan YPMM dianggap oleh PKL Pasar Jongkok sebagai bentuk kongkalingkong. Karena kerjasama tersebut menguntungkan pihak tertentu. Di pasar Jongkok para PKL gratis berjualan, maka itulah peluang yang dibidik pihak tertentu untuk mengelola Pasar Senggol Giant Panam dengan berlindung dibalik legalitas kerjasama dengan Pemko.
Bahkan seperti diungkapkan politisi PKS di DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Fadri AR bahwa kebijakan Pemko terkait penggusuran P
KL Pasar Jongkok dan memberi legalitas pengelolaan lahan di Giant Panam patut disayangkan.
“Ada yang diuntungkan dengan kebijakan Wali Kota dengan mengarahkan pedagang Jalan Subrantas ke lokasi yang dikelola YPMM . Harusnya, kebijakan Wako tidak boleh bersifat menguntungkan orang per orang,” kata Fadri.
Kini, dengan musibah kebakaran dan kerugian yang tak sedikit, para pedagang Pasar Senggol tak bisa berbuat banyak dan hanya berharap Pemko memberikan prioritas bantuan agar aktifitas pedagang kembali pulih. ***
Isak tangis dan ratap pilu para pedagang hingga kebakaran berhasil dipadamkan masih terdengar. Mereka tak menyangka harus rela melepas harapan di sisa 10 hari jelang Ramadhan, dimana justru menjadi momen meraup omset lebih besar dari hari-hari biasanya.
“Allahu Akbar, hanya sebentar lagi Hari Raya, tapi takdir buruk buat kami. Padahal hari ini sampai lebaranlah waktunya mengejar omset penjualan. Malang sekejap mata,” tutur pilu Ani, salah seorang pedagang yang lapaknya ludes dilalap si jago merah.
Salah seorang pedagang yang juga bernasib sama, Herman, mengatakan karena sudah dekat lebaran maka banyak pedagang yang sengaja membawa stok barang yang ada di rumah ke kios.
“Itu karena pembeli biasanya makin banyak, kalau stok ada di sini semuanya kita menjualnya juga enak tidak kalang kabut cari-cari ukuran dan warna. Maklum pembeli banyak permintaannya. Tapi saya untung belum sempat bawa semua ke sini,” kata Herman.
Pihak pengelola Pasar Senggol Giant Panam, Yayasan Pekanbaru Metro Madani (YPMM) akhinya mencarikan solusi bagi pedagang agar secepatnya bisa kembali berjualan.
“Untuk sementara kita pindahkan ke lahan parkir bagian belakang Giant. Kita tempatkan para pedagang di sana,” jelas Ketua Dewan Pengawas di YPMM Hendra Bonju pada Pekanbaru MX, Senin (29/7).
Dikatakan Hendra, pihaknya akan berupaya meminta bantuan tenda dari Polda Riau. Namun ia masih terus menunggu informasi dari Kementerian Koperasi apakah ada penyediaan tenda atau tidak.
"Insyaallah dalam dua hari kedepan, pedagang bisa berjualan lagi," katanya.
Pasar senggol merupakan lapak yang dibangun Pemko Pekanbaru dalam setahun terakhir untuk menghindari pedagang berjualan di Pasar Jongkok di Jalan Subrantas, Panam. Para pedagang yang hendak berjualan harus menyetor uang sewa Rp 450 ribu perbulan melalui Bank.
Ketua Dewan YPMM Anis Mursil mengatakan uang sewa Rp 450 ribu tersebut merupakan jumlah yang disepakati antara pengelola dengan Pemko Pekanbaru. Dari uang sewa tersebut pedagang tak lagi dipungut uang listrik, retribusi dan uang kebersihan
"Di sana tidak ada lagi yang namanya uang SPSI, uang preman atau palak," terang Anis yang juga mantan tim sukses Firdaus MT saat Pilkada 2011 lalu.
Namun sejak lama kerjasama antara Pemko Pekanbaru dengan YPMM dianggap oleh PKL Pasar Jongkok sebagai bentuk kongkalingkong. Karena kerjasama tersebut menguntungkan pihak tertentu. Di pasar Jongkok para PKL gratis berjualan, maka itulah peluang yang dibidik pihak tertentu untuk mengelola Pasar Senggol Giant Panam dengan berlindung dibalik legalitas kerjasama dengan Pemko.
Bahkan seperti diungkapkan politisi PKS di DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Fadri AR bahwa kebijakan Pemko terkait penggusuran P
KL Pasar Jongkok dan memberi legalitas pengelolaan lahan di Giant Panam patut disayangkan.
“Ada yang diuntungkan dengan kebijakan Wali Kota dengan mengarahkan pedagang Jalan Subrantas ke lokasi yang dikelola YPMM . Harusnya, kebijakan Wako tidak boleh bersifat menguntungkan orang per orang,” kata Fadri.
Kini, dengan musibah kebakaran dan kerugian yang tak sedikit, para pedagang Pasar Senggol tak bisa berbuat banyak dan hanya berharap Pemko memberikan prioritas bantuan agar aktifitas pedagang kembali pulih. ***
