PEKANBARU -- Turunnya harga sawit pekan ini membuat petani sawit di berbagai daerah di Riau mengeluh dan menjerit karena kebutuhan keluarga mesti terus dipenuhi sementara pendapatan makin menurun. Apalagia menjelang momen lebaran kebutuhan finasial semakin meninagkat.
Saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit hanya Rp 800 hingga Rp 1000, itu pun buahnya jarang hingga produksi sawit tak sesuai harapan. Sementara itu Dinas Perkebunan Riau pekan lalu juga memutuskan bahwa harga TBS sawit mengalami penurunan sebesar Rp 23,36 perkilogram.
Kasi Promosi dan Pemasaran hasil Perkebunan Disbun Riau, Rina Rosdiana mengatakan faktor demand dari luara negeri terhadap sawit saat ini memang mengalami pelemahan.
"Permintaan CPO (Crude Palm Oil) dari China melemah karena adanya perubahan gaya hidup warga China yang beralih dari mengkonsumsi CPO menjadi soybean oil," jelas Rina Rosdiana.
Seperti diketahui China merupakan tujuan ekspor tertinggi komoditas minyak nabati dari sawit. Namun sejak beberapa waktu belakangan terjadi pergeseren trend komsumsi di China, dimana masyarakat di sana lebih memilih Soybean oil ketimbang palm oil (sawit).
Perubahan ini kemungkinan diakibatkan oleh munculnya persepsi soybean oil jauh lebih sehat dibandingkan dengan CPO. Kemungkinan lainnya adalah akibat peningkatan konsumsi daging di China. Peningkatan konsumsi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi akan Soybean meal, dimana Soybean meal merupakan bahan dasar pembuatan pakan ternak. Pakan ternak sendiri sebagian dihasilkan dari ampas pengelolahan Soybean menjadi Soybean oil.
Dengan demikian, China akan mendapatkan dua manfaat sekaligus dari Soybean, yaitu pertamamendapatkan pakan ternak (Soybean meal) dan kedua mendapatkan vegetable oil.
Penyebab lain penurunan harga CPO menurut Rina adalah penurunan harga beli beberapa perusahaan dari petani seperti PT Asian Agri, PT Sinar Mas dan PT Astra Agro Lestari. [eka satria *3]
Saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit hanya Rp 800 hingga Rp 1000, itu pun buahnya jarang hingga produksi sawit tak sesuai harapan. Sementara itu Dinas Perkebunan Riau pekan lalu juga memutuskan bahwa harga TBS sawit mengalami penurunan sebesar Rp 23,36 perkilogram.
Kasi Promosi dan Pemasaran hasil Perkebunan Disbun Riau, Rina Rosdiana mengatakan faktor demand dari luara negeri terhadap sawit saat ini memang mengalami pelemahan.
"Permintaan CPO (Crude Palm Oil) dari China melemah karena adanya perubahan gaya hidup warga China yang beralih dari mengkonsumsi CPO menjadi soybean oil," jelas Rina Rosdiana.
Seperti diketahui China merupakan tujuan ekspor tertinggi komoditas minyak nabati dari sawit. Namun sejak beberapa waktu belakangan terjadi pergeseren trend komsumsi di China, dimana masyarakat di sana lebih memilih Soybean oil ketimbang palm oil (sawit).
Perubahan ini kemungkinan diakibatkan oleh munculnya persepsi soybean oil jauh lebih sehat dibandingkan dengan CPO. Kemungkinan lainnya adalah akibat peningkatan konsumsi daging di China. Peningkatan konsumsi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi akan Soybean meal, dimana Soybean meal merupakan bahan dasar pembuatan pakan ternak. Pakan ternak sendiri sebagian dihasilkan dari ampas pengelolahan Soybean menjadi Soybean oil.
Dengan demikian, China akan mendapatkan dua manfaat sekaligus dari Soybean, yaitu pertamamendapatkan pakan ternak (Soybean meal) dan kedua mendapatkan vegetable oil.
Penyebab lain penurunan harga CPO menurut Rina adalah penurunan harga beli beberapa perusahaan dari petani seperti PT Asian Agri, PT Sinar Mas dan PT Astra Agro Lestari. [eka satria *3]
