laporan Eka Satria, Pekanbaru
PEKANBARU -- Tindakan obral barang yang dilakukan pedagang pasar tradisional dan pedagang kaki lima tak lain karena semua outlet penjualan busana di mall-mall juga melakukan obral. Meski sudah menjadi rahasia umum bahwa barang-barang yang didiskon besar-besar di pasar modern sejatinya harga telah dinaikkan terlebih dahulu baru kemudian dipasang tanda obral bahkan hingga 70 persen.
"Menurut akal sehat kita saja itu kan mustahil. Coba kalau didiskon dari harga normal, mana mungkin bisa diskon dikasih 70 persen?" ungkap Etty, pedagang Cik Puan.
Hindun, pengunjung di sebuah mall bercerita bahwa yang terjadi dengan sistim diskon seperti itu rawan mengecoh pembeli. Hindun yang sehari-hari adalah guru matematika di sebuah SMP Swasta tersebut menerangkan logikanya.
“Hati-hati dengan obral pakai ungkapan up to atau sampai, itu adalah salah satu yang paling umum dijumpai. Diskon up to 70 persen biasanya berarti bahwa dari 10.000 item barang yang ditawarkan, ada 10 yang harganya dipotong 70 persen, 9.990 item lagi dipotong kurang dari itu atau tidak sama sekali. Dalam banyak kasus, harga asli pun sudah lebih dahulu dinaikkan sebelum diskon," kata Hindun.
"Ada lagi diskon 50 persen + 20 persen . pembeli yang mengerti aturan penulisan dalam matematika maupun fisika untuk penjumlahan akan mengira ini 70 persen. Namun, yang dimaksud rupanya adalah 60 persen yakni 50 persen ditambah dengan 20 persen dari 50 persen. Gitu, bang," lanjutnya. Makanya menurut Hindun praktek diskon yang cenderung bisa dipercaya itu adalah oleh pedagang pasar dan kaki lima.
"Pedagang biasa dan kaki lima biasanya tak pakai trik-trik menyesatkan!"” simpul Hindun. ***
PEKANBARU -- Tindakan obral barang yang dilakukan pedagang pasar tradisional dan pedagang kaki lima tak lain karena semua outlet penjualan busana di mall-mall juga melakukan obral. Meski sudah menjadi rahasia umum bahwa barang-barang yang didiskon besar-besar di pasar modern sejatinya harga telah dinaikkan terlebih dahulu baru kemudian dipasang tanda obral bahkan hingga 70 persen.
"Menurut akal sehat kita saja itu kan mustahil. Coba kalau didiskon dari harga normal, mana mungkin bisa diskon dikasih 70 persen?" ungkap Etty, pedagang Cik Puan.
Hindun, pengunjung di sebuah mall bercerita bahwa yang terjadi dengan sistim diskon seperti itu rawan mengecoh pembeli. Hindun yang sehari-hari adalah guru matematika di sebuah SMP Swasta tersebut menerangkan logikanya.
“Hati-hati dengan obral pakai ungkapan up to atau sampai, itu adalah salah satu yang paling umum dijumpai. Diskon up to 70 persen biasanya berarti bahwa dari 10.000 item barang yang ditawarkan, ada 10 yang harganya dipotong 70 persen, 9.990 item lagi dipotong kurang dari itu atau tidak sama sekali. Dalam banyak kasus, harga asli pun sudah lebih dahulu dinaikkan sebelum diskon," kata Hindun.
"Ada lagi diskon 50 persen + 20 persen . pembeli yang mengerti aturan penulisan dalam matematika maupun fisika untuk penjumlahan akan mengira ini 70 persen. Namun, yang dimaksud rupanya adalah 60 persen yakni 50 persen ditambah dengan 20 persen dari 50 persen. Gitu, bang," lanjutnya. Makanya menurut Hindun praktek diskon yang cenderung bisa dipercaya itu adalah oleh pedagang pasar dan kaki lima.
"Pedagang biasa dan kaki lima biasanya tak pakai trik-trik menyesatkan!"” simpul Hindun. ***
