PEKANBARU, Kilas Riau -- Eksekusi yang dilakukan petugas Juru Sita Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru dan dikawal ratusan personel Polresta Pekanbaru, Brimobda Riau, TNI dan Satpol PP terhadap bangunan Rumah Makan (RM) Bebek Goreng dan 58 rumah di lahan seluas 27,236 meter persegi di Jalan Sudirman Tangkerang hingga Jalan Kasah Kecamatan Marpoyan Damai Kamis (12/12) itu menyisakan duka pilu.
Banyaknya petugas yang datang serta pukulan rotan, warga yang awalnya membuat blokade akhirnya menyerah kalah dan hanya bisa pasrah saat alat berat buldozer dan tiga unit eksavator meruntuhkan bangunan RM Bebek Goreng dan rumah mereka.
Menyikapi duka pilu warga yang menjadi obyek eksekusi tersebut, anggota DPRD KOta Pekanbaru Zaidir Albaiza SH mengaku sangat prihatin dan menyayangkan cara-cara penegakan hukum yang masih mengedepankan arogansi kekuasaan terebut. Meskipun harus diakui bahwa hukum harus ditegakkan namun menurut Zaidir pihak eksekutor mestinya bisa mencari upaya-upaya lain yang lebih efektif sehingga tidak menimbulkan hal-hal buruk seperti kejadian Kamis lalu.
"Kita janganlah mengadopsi atau meniru cara-cara eksekusi yang biasa dilakukan di tempat-tempat lain seperti di Jakarta atau di Makasar sana, dimana selalu dilakukan dengan cara-cara tidak manusiawi. Di sini di Riau ini cara-cara seperti itu belum pernah dilakukan. Kita masih ada nilai-nilai budaya Melayu yang bisa dikedepankan," ujar caleg PKB dari daerah pemilihan Marpoyan Damai dan Bukit Raya ini.
Apalagi bagi masyarakat yang terkena eksekusi, seharusnya pihak yang memenangkan gugatan dan pihak juru sita bisa lebih arif memberikan waktu dan kesempatan bagi mereka agar bisa menerima putusan hukum yang sudah inkraah tersebut.
"Terus terang cara-cara kasar dan kekerasan bukan budaya Melayu, dan yang terjadi kemarin itu yang membuat kita miris. Padahal berbagai alternatif masih dimungkinkan untuk ditempuh. memang hukum harus tegak, tapi tidak mesti membuat orang teraniaya karenanya," pungkasnya.[eka satria]
Banyaknya petugas yang datang serta pukulan rotan, warga yang awalnya membuat blokade akhirnya menyerah kalah dan hanya bisa pasrah saat alat berat buldozer dan tiga unit eksavator meruntuhkan bangunan RM Bebek Goreng dan rumah mereka.
Menyikapi duka pilu warga yang menjadi obyek eksekusi tersebut, anggota DPRD KOta Pekanbaru Zaidir Albaiza SH mengaku sangat prihatin dan menyayangkan cara-cara penegakan hukum yang masih mengedepankan arogansi kekuasaan terebut. Meskipun harus diakui bahwa hukum harus ditegakkan namun menurut Zaidir pihak eksekutor mestinya bisa mencari upaya-upaya lain yang lebih efektif sehingga tidak menimbulkan hal-hal buruk seperti kejadian Kamis lalu.
"Kita janganlah mengadopsi atau meniru cara-cara eksekusi yang biasa dilakukan di tempat-tempat lain seperti di Jakarta atau di Makasar sana, dimana selalu dilakukan dengan cara-cara tidak manusiawi. Di sini di Riau ini cara-cara seperti itu belum pernah dilakukan. Kita masih ada nilai-nilai budaya Melayu yang bisa dikedepankan," ujar caleg PKB dari daerah pemilihan Marpoyan Damai dan Bukit Raya ini.
Apalagi bagi masyarakat yang terkena eksekusi, seharusnya pihak yang memenangkan gugatan dan pihak juru sita bisa lebih arif memberikan waktu dan kesempatan bagi mereka agar bisa menerima putusan hukum yang sudah inkraah tersebut.
"Terus terang cara-cara kasar dan kekerasan bukan budaya Melayu, dan yang terjadi kemarin itu yang membuat kita miris. Padahal berbagai alternatif masih dimungkinkan untuk ditempuh. memang hukum harus tegak, tapi tidak mesti membuat orang teraniaya karenanya," pungkasnya.[eka satria]
