-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Curhat Eks Anggota Geng Motor

| Januari 21, 2013 WIB
MEMPUNYAI banyak teman dan tidak lagi terkungkung di rumah
tanpa aktifitas, tunjukkan siapa kamu! Begitulah ia dibujuk pertama kali oleh temannya agar bergabung dengan sebuah geng motor kesohor di
Pekanbaru. Ajakan itu datang menurut RZK, tokoh kita ini, karena
diantara teman-temannya ia dianggap jago mengendarai motor dan mahir
melakukan aktraksi-aktraksi. 6 bulan lalu ia resmi menyandang predikat
anggota geng.



"Berarti kamu dibaiat juga dong, seperti yang lain-lain?" saya coba menebak sambil mengangsurkan segelas es jeruk yang dipesan ke arahnya. Sore itu, panas musim kemarau masih terasa. Kami duduk di pojok sebuah
warung soto di Jalan Kaharudin Nasution, Marpoyan. Dua mangkok soto
ikut menjadi teman obrolan kami.

RZK menyeruput es jeruk dengan sedotan. RZK meloloskan sebatang
mild dari bungkusnya, lalu menyulutnya dan menghisap dalam-dalam,
lantas menghempaskan asapnya ke meja. Ia seperti tak mau langsung
menjawab pertanyaan saya.

"Dibaiat? kayak teroris aja...., ya enggaklah. Hanya ucapan janji
setia sama kelompok aja, kayak ikrar, gitu," jawab RZK kemudian. Saya
mengangguk saja, ikrar dan baiat sebenarnya sama saja, pikir saya.

Perkenalan saya dengan RZK hampir sebulan lalu berawal dari sebuah bengkel sepeda motor di Jl Pasir Putih, Siak Hulu. Dari cerita soal
tetek bengek motor obrolan lalu menyinggung tentang geng motor yang
kebetulan sedang marak. Akhirnya ia becerita bahwa dirinya pernah
bergabung dengan salah satu geng motor yang diberitakan di media
tersebut. Tapi kini sudah tobat, akunya.

Semula RZK menolak mentah-mentah tawaran saya untuk menuliskan
pengalamannya bergabung dengan geng motor. Selain khawatir menjadi
sasaran kebencian teman-temannya ia mengaku takut jadi bumerang bila
nanti berurusan dengan pihak kepolisian.

Tapi setelah coba diyakinkan bahwa dengan berbagi pengalaman
berharga seperti yang dialaminya, paling tidak akan menggugah mereka
yang saat ini masih aktif sebagai anggota geng motor. Lagi pula
identitasnya tidak akan dipublikasikan. RZK akhirnya setuju.

Sudah hampir dua bulan ia tak lagi berhubungan dengan teman-teman
sesama anggota geng. Gara-gara dalam sebuah perkelahian dengan geng
motor lain, RZK mendapat sebuah sabetan senjata tajam di rusuk
kanannya. Sambil melakukan perawatan dan atas nasehat keluarga ia
akhirnya memutuskan menghindar dari teman-teman geng-nya dan memilih
tinggal sementara di rumah Om-nya di wilayah Pandau, Siak Hulu. Ia pun
mulai bisa menyadari kekeliruannya selama ini.

"Ini atas saran orang tua dan om karena di rumah ortu di Panam
masih ada beberapa teman yang suka mampir ke rumah. Kalo mereka udah
datang, wah, susah untuk mengelak. Kita macam dicocok hidungnya, nurut
aja," kata RZK.

Terperosoknya RZK ke dalam lingkaran geng motor sebenarnya ikut
dipicu oleh kondisi yang tengah dihadapinya saat itu. Dimana setelah
lulus dari sekolah lalu gagal dalam tes ujian masuk perguruan tinggi
negeri, akhirnya hari-harinya diisi dengan main game di warnet dan
nongkrong dengan teman-temannya sampai akhirnya diajak masuk sebuah geng motor.

Bergabung dengan sebuah komunitas geng motor awalnya terasa
mengasyikkan bagi RZK. Ia yang hari-harinya suntuk tanpa kegiatan dan
tak ada pekerjaan menemukan dunia baru dan petualangan baru yang seru.

Dalam komunitas seperti itulah RZK merasakan dirinya lebih berarti karena dihargai sesama temannya. Perasaan dihargai yang tak pernah lagi ia dapatkan terutama setelah lulus sekolah dan menganggur.

Menurut pengakuan RZK, selama bergabung dengan kelompok geng motor ia berkali-kali melakukan aksi di jalanan dan berkali-kali diburu
polisi. Mujurnya, lulusan sebuah SMK di Pekanbaru ini selalu berhasil
lolos dari sergapan polisi.

"Pernah main senjata tajam juga?" tanya saya.
"Sering!" jawabnya cepat sambil mengulas senyum. "Biasanya kalau
sudah bentrok sama anak-anak lain, kita mau tak mau harus ngeluarin
pisau komando. Kalau nggak pegang senjata bisa-bisa kita dijadikan
sasaran mereka,"sambungnya.

Ketika masih "tercatat" sebagai anggota, dirinya hampir setiap
akhir pekan berkumpul dengan sesama anggota geng motor. Selain
melakukan atraksi kemahiran mengendarai sepeda motor, biasanya sesama
teman taruhan balapan antar satu tiang listrik dengan tiang listrik
lainnya. Bila sudah bosan, maka aksi konvoi ke jalanan adalah pilihan
lainnya. Tidak ada rencana target apapun, tapi bila bertemu siapapun
yang dianggap bisa "dipermak" mereka akan sikat.

"Jika melawan, pasti dipukuli, dompetnya dipreteli dan sepeda
motornya dihancur-hancurin," kata remaja berkulit sawo matang dan
berambut tebal ini.

Tapi apa sesungguhnya yang kamu dan teman-teman dapatkan bergabung dengan geng motor? Ada kepuasan tertentu?

Sambil menikmati soto bercitarasa khas Padang, RZK mengatakan
bahwa sebenarnya yang disebut kepuasan itu tidak ada. kalaupun ada,
diakuinya, itu hanyalah semu. Tidak jelas bagaimana mengukur kepuasan.
Hanya saja katanya, menjadi anggota geng motor, paling tidak, bisa
menciptakan rasa percaya diri, keberanian dan eksistensi diri. Merasa
diri punya power alias kekuatan untuk ditunjukkan pada orang lain.

Tapi bukankah yang sering terjadi mereka tak bernyali bila sendiri? Dimana letak keberaniannya?

RZK terdiam, mungkin menyadari kebenaran pernyataan saya. Lalu ia
berujar bahwa memang benar kenyataannya seperti itu. Tapi kadang-kadang keberanian itu bisa muncul juga di saat-saat tertentu.

"Kalau senggolan di jalanan kita bisa menggertak orang hanya dengan suara gas yang dikencangi. Biasanya orang langsung ciut karena menduga yang dihadapi pasti anak geng" katanya.

Remaja berdarah Melayu dan Jawa ini menceritakan tentang
aktifitasnya bila sudah berkumpul dan nongkrong dengan teman-teman
sesama anggota geng di lokasi tertentu. Ia mengaku sekali-sekali pernah
juga menkonsumsi obat-obat yang bisa menimbulkan keberanian dan percaya
diri. Mungkin yang dimaksud RZK adalah sejenis obat penenang yang memang dapat melenyapkan sementara rasa nervous, depresi dan ketakutan. Ia
menyebut nama-nama obat penenang seperti Diazepam (generik) dan Xanax
pernah dikonsumsinya. Meski diakuinya obat tersebut sangat sulit
diperoleh.

Jika mengingat kembali perjalanan hidupnya selama ikut dlam aksi
geng motor, RZK mengaku sering menyesal atas apa yang telah dilakukan
selama ini.

"Saya merasa telah berbuat jahat dan dan kejam, bang," akunya.
Secara gamblang namun dengan nada suara agak gemetar, ia mengaku sering
ikut memukuli korban yang kebetulan mengendarai motor sendirian di malam hari.

"Kalau dipikir dengan akal sehat, tak mungkinlah menyiksa orang
tak bersalah, lalu dompetnya dikuras, motornya dirusak dan orangnya
dipukuli pula. Sadis juga, bang. Tapi koq rasanya ada sesuatu yang
menggerakkan saya tanpa bisa ditolak. Seperti ada syetan yang
membisikkan untuk berbuat seperti itu." ungkapnya heran.

Kepada RZK saya jelaskan bahwa dalam ilmu psikologi ada yang disebut
dengan kerumunan massa (crowding) yang membuat seseorang di dalamnya
secara psikologi ikut terpengaruh berbuat seperti yang dilakukan orang
lain tanpa disadari. "Setannya, ya teman-teman kamu," kata saya
bergurau. RZK tertawa.

RZK tak mengelak mengakui bila kelakuannya selama ini telah
membuat orangtua dan keluarganya kecewa dan sedih. Betapa tidak, dulu
semasa masih bersekolah, ia dikenal sebagai anak yang rajin dan santun.
Meski bukan peraih ranking tertinggi di sekolah tapi ia termasuk siswa
yang pandai. Tapi setelah lulus sekolah dan mulai akrab dengan geng
motor, sifatnya berubah drastis. Hal itulah yang membuat orang-orang
sekelilingnya heran, mengapa ia bisa berubah menjadi berangasan dan
ugal-ugalan.

"Mama saya sering nangis kalau saya pulang subuh-subuh habis
melakukan aksi dengan teman-teman. Puncaknya ketika saya kena sabetan
pisau anak geng lain, mama memeluk saya dan memohon saya untuk
meninggalkan aksi geng motor," cerita RZK

Yang sangat membuatnya terharu adalah kata-kata mamanya yang
memelas memintanya berhenti bergaul dengan anak-anak geng motor setelah
melhat luka sabetan pisau di rusuk RZK.

"Kata mama, kalau saya masuk penjara gara-gara ikut geng motor
belumlah seberapa dibanding bila suatu ketika saya mati karena berkelahi dengan geng motor lain. Apalagi masyarakat sudah mulai mengancam akan
membakar anggota geng motor yang tertangkap." RZK merasakan betapa dalam cinta orangtua kepada dirinya.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari dua bersaudara, RZK
tentulah menjadi harapan besar kedua orangtuanya. Hal tersebutlah yang
selama ini tak disadarinya.

Sejumput asa untuk memutus masa lalu yang kelam terselip dalam
pikiran RZK. Niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi
tetap menggebu. Ikut SMPTN adalah pilihannya. Mengingat kedua
orangtuanya hanyalah pegawai negeri golongan rendahan, ia sadar tak
mungkin memaksakan diri masuk perguruan tinggi swasta.

Menyadari kekeliruan perbuatan diri dan bertekad menjadi lebih
baik adalah kunci pembuka menuju masa depan. Kini modal itu sudah
dipunyai RZK, ia berjanji akan memberikan hadiah istimewa untuk kedua
orangtua dan keluarganya: gelar sarjana teknik seperti yang selama ini
menjadi impiannya.

Kini harapan masih terbentang luas. Menutup masa silam yang keras
dan beringas. Apalah arti tindakan ugal-ugalan mencari orang-orang lemah untuk ditindas, lalu sembunyi dari kejaran petugas. Ia sadar hidup
seperti itu penuh rasa was-was, padahal diri masih muda dan bernas. Tak
dipungkirinya pula, geng motor adalah gerombolan orang-orang berperilaku tak pantas dan remaja yang kehilangan kompas. Ia setuju, sudah saatnya
geng motor ditumpas tuntas. Semoga. EKA SATRIA

Dimuat di Harian Pekanbaru MX, Minggu 13 Januari 2013
foto : buananusantaraonline.com