Menggusur Budaya Demi Pusat Bisnis
Proyek Riau Twon Square tidak hanya menyisakan silang sengkarut antara Pemprov Riau dengan DPRD Riau, penentangan dari beberapa ormas, tarik ulur soal retribusi IMB Pemprov dengan Pemko Pekanbaru, ketidaksetujuan tak terkecuali datang dari tokoh-tokoh dan budayawan Melayu menjadi miris atas pembangunan Ritos tersebut.
Seperti diketahui di surat tanah, peruntukan kawasan Bandar Serai (eks. MTQ) adalah kawasan untuk pengembangan kebudayaan Riau, bukan sebagai pusat bisnis dan komersial, hotel, kolam renang dan arena permainan lainnya.
Yayasan Seni Raja Ali Haji (Serai) sudah 12 tahun lamanya menghuni dan bekerja untuk pengembangan kebudayaan di sana. Kini, oleh kepentingan bisnis kawasan tersebut akan disulap menjadi pusat bisnis dan komersial. Banyak kalangan menduga, jika proyek Ritos ini terwujud maka konsekwensi lain yang harus ditanggung adalah pelan-pelan teredusirnya kebudayaan melayu.
Budayawan Melayu H. Tenas Efendy mengungkapkan ironi yang mesti dihadapinya sebagai seorang penjaga budaya Melayu.
“Saya sangat sedih, perih terasa. Tapi demi pengembangan pembangunan di Riau, biarlah. Meskipun hati nurani saya bertentangan dengannya. Meski pun pedih perih terasa, saya tetap diurutan paling depan menjaga marwah Riau,” ujarnya.
Kini mega proyek tersebut masih tetap terbengkalai, namun Pemprov Riau tampaknya sudah memberi sinyal akan tetap melanjutkan proyek tersebut mengingat kerugian secara ekonomis bila ditunda-tunda. Pemko Pekanbarau pun masih membuka diri untuk mecari titik temu soal hak dan kewajiban masing-masing pihak. Apalagi seperti dikatakan Wali Kota Firdaus MT bahwa Kota Pekanbaru sudah menjadi daerah tujuan investasi terbaik saat ini.
“Untuk berinvestasi, Pemko Pekanbaru akan memberikan kemudahan dalam segala hal, khususnya masalah perizinan dengan menerapkan pelayanan satu pintu," jawab Firdaus meyakinkan. [eka satria]
Proyek Riau Twon Square tidak hanya menyisakan silang sengkarut antara Pemprov Riau dengan DPRD Riau, penentangan dari beberapa ormas, tarik ulur soal retribusi IMB Pemprov dengan Pemko Pekanbaru, ketidaksetujuan tak terkecuali datang dari tokoh-tokoh dan budayawan Melayu menjadi miris atas pembangunan Ritos tersebut.
Seperti diketahui di surat tanah, peruntukan kawasan Bandar Serai (eks. MTQ) adalah kawasan untuk pengembangan kebudayaan Riau, bukan sebagai pusat bisnis dan komersial, hotel, kolam renang dan arena permainan lainnya.
Yayasan Seni Raja Ali Haji (Serai) sudah 12 tahun lamanya menghuni dan bekerja untuk pengembangan kebudayaan di sana. Kini, oleh kepentingan bisnis kawasan tersebut akan disulap menjadi pusat bisnis dan komersial. Banyak kalangan menduga, jika proyek Ritos ini terwujud maka konsekwensi lain yang harus ditanggung adalah pelan-pelan teredusirnya kebudayaan melayu.
Budayawan Melayu H. Tenas Efendy mengungkapkan ironi yang mesti dihadapinya sebagai seorang penjaga budaya Melayu.
“Saya sangat sedih, perih terasa. Tapi demi pengembangan pembangunan di Riau, biarlah. Meskipun hati nurani saya bertentangan dengannya. Meski pun pedih perih terasa, saya tetap diurutan paling depan menjaga marwah Riau,” ujarnya.
Kini mega proyek tersebut masih tetap terbengkalai, namun Pemprov Riau tampaknya sudah memberi sinyal akan tetap melanjutkan proyek tersebut mengingat kerugian secara ekonomis bila ditunda-tunda. Pemko Pekanbarau pun masih membuka diri untuk mecari titik temu soal hak dan kewajiban masing-masing pihak. Apalagi seperti dikatakan Wali Kota Firdaus MT bahwa Kota Pekanbaru sudah menjadi daerah tujuan investasi terbaik saat ini.
“Untuk berinvestasi, Pemko Pekanbaru akan memberikan kemudahan dalam segala hal, khususnya masalah perizinan dengan menerapkan pelayanan satu pintu," jawab Firdaus meyakinkan. [eka satria]
