-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Krisis Listrik: Diminta Mundur, GM PLN Riau-Kepri Santai

| Juli 26, 2013 WIB
DAHLAN Iskan, saat masih menjadi CEO PLN pernah mengungkapkan kegelisahannya mengenai listrik yang sering mati di Kota Pekanbaru. Seperti ditulisnya di situs pln.go.id, “Pilkada di daerah yang kaya raya ini termasuk miskin calon. Hanya dua pasang yang maju. Tapi, dua-duanya gajah. Yang satu, Firdaus MT, adalah mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau yang tentu kaya akan misi dan gizi. Satunya lagi, seorang Srikandi yang tidak kalah bergizinya. Dia adalah Septina Primawati , yang tak lain istri Gubernur Riau. Karena itu, bisa disimpulkan begini: ketika dua gajah bertempur, listrik yang mati!"

Dahlan Iskan hanya menyentil tentang lampu penerangan jalan yang sering mati dan menyalahkan Pemko yang lalai membayar tunggakan. Tapi sekarang persoalan yang dihadapi warga Kota Pekanbaru tidak lagi hanya pemadaman lampu jalan, tapi pemadaman aliran ke rumah dan kantor. Kondisi tersebut sudah nyaris memancing emosi dan kemarahan. Hampir tiap hari terjadi pemadaman, baik siang maupun malam.

Anggota Komisi IV DPRD Pekanbaru yang membidangi masalah energi dan infrastruktur, Muhammad Sabarudi ST juga mengungkapkan kegeramannya.

“Saya minta manejemen PLN harus lebih memperhatikan pelanggannya, jangan seenaknya memutus aliran, terlebih di bulan Ramadhan ini. Kalau memang tidak bisa memberi jaminan sebaiknya General Manager PLN mundur saja!” kata Sabarudi tak main-main.

Ia menilai persoalan listrik yang sering mati tidak hanya semata-mata disebabkan faktor teknis di lapangan, namun terkait juga buruknya kinerja manajemen PLN Riau-Kepri.

Anggota Komisi IV lainnya, Roni Amriel SH bahkan mengancam akan mem-pansus-kan kembali persoalan listrik ini di DPRD Pekanbaru.

“Jika persoalan klasik ini tidak juga bisa ditangani PLN, maka pembentukan Pansus Kelistrikan tak bisa dihindarkan. Ini demi kepentingan masyarakat yang lebih luas,” kata Roni melalui pesan singkat yang dikirim kepada Pekanbaru MX.

Di pihak lain, anggota Komisi II DPRD Pekanbaru yang membidangi perekonomian, Zaidir Albaiza SH juga menyoroti masalah byar-pet alias pemadaman listrik sesuka hati tersebut. Ia meminta PLN seharusnya bisa memperkirakan kerugian ekonomi masyarakat akibat pemadaman tersebut.

Bahkan lebih jauh Zaidir meminta antisipasi bahwa pemadaman bisa berakibat timbulnya kriminalitas.

“Bukan tak mungkin peristiwa LP Tanjung Gusta juga bisa terjadi di sini,” keluhnya.

Sementara itu berbagai penyebab kemudian disampaikan PLN kepada masyarakat. Pada Rabu hingga Kamis pekan lalu listrik di kawasan Kecamatan Tampan hingga ke wilayah Kabupaten Kampar, padam total. Penyebabnya menurut pihak PLN karena ada jaringan kabel PLN bawah tanah yang rusak akibat proyek Dinas PU Riau.

Selain itu pemadaman bergilir yang terus berlangsung selama Ramadhan penyebabnya menurut PLN karena terjadi kemerosotan debit air waduk.

"Mengingat ketinggian air waduk yang terus merosot karena kemarau, maka PLN berupaya mengendalikan pasokan tenaga listrik dengan cara melakukan pemadaman bergilir," ujar GM PLN Riau-Kepri Dodi Pangaribuan . Dijelaskan, pemeliharaan pembangkit di PLTA Koto Panjang yang tergabung dalam jaringan koneksi PLTU Ombilin, Sumatra Barat masih dilakukan.

Namun ia memastikan bahwa PLN siap memberikan kompensasi sesuai ketentuan. Di hadapan rapat dengar pendapat Komisi C DPRD Riau pekan lalu PLN berjanji memberikan kompensasi yaitu apabila lama padam melebihi 10 persen dari deklarasi Tingkat Mutu Pelayanan masing-masing area, pelanggan berhak mendapatkan kompensasi berupa diskon 10 persen dari biaya beban bulanan.

Menanggapi permintaan mundur dari anggota dewan, Dodi mengatakan statemen anggota dewan tersebut tersebut sah-sah saja.

“Tapi yang berwenang adalah manjemen PLN. Yang jelas, hanya pimpinan kami yang bisa memindahkan dan memutasikan. Pertimbangannya teknis bukan karena politis,” jawab Dodi dengan nada tenang.***