-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berebut Tempat Jajanan Ramadhan

| Juli 10, 2013 WIB

JAJANAN berbuka, seperti tahun-tahun sebelumnya kali ini kembali menyemarakkan bulan Ramadhan. Para pedagang makanan berbuka puasa menggunakan kesempatan ini dengan aneka jajanan yang menggugah selera. Di berbagai tempat di Kota Pekanbaru pasar dadakan yang khusus menjual berbagai hidangan berbuka puasa tersebut menjadi tujuan warga selain berbelanja ke pasar tradisional.

Pasar jajanan Ramadhan tersebut rata-rata dikelola pihak kelurahan atau desa bekerjasama dengan para pemuda setempat. Misalnya pasar jajanan Ramadhan di Desa Pandau Jaya, Siak Hulu, dikelola oleh pemuda setempat. Sementara di pasar Syariah, Tanah Merah, Siak Hulu, pasar jajanan berbuka puasa juga setiap tahun digelar. Pasar dadakan tersebut ditempatkan di areal parkir pasar dan dikelola oleh pihak administrator pasar Syariah.

Kebetulan mendekati agenda pemilihan Gubernur Riau dan Pemilu 2014, pasar dadakan sering juga dimanfaatkan oleh para caleg untuk memasang berbagai spanduk dan poster di areal pasar. Misalnya yang terlihat di Pasar dadakan di Desa Pandau Jaya, sejumlah spanduk dan poster Cagubri dan caleg menghiasi suasana di areal pasar.

Salah seorang pedagang jajanan berbuka di Desa Pandau, Nimar (45) mengaku memanfaatkan kesempatan berjualan di pasar dadakan tersebut karena pengunjung selalu ramai. Selain dirinya, banyak pedagang bahkan ibu-ibu rumah tangga yang mencoba peruntungan berjualan makanan berbuka puasa selama bulan Ramadhan.

“Kalau untuk omset lumayanlah, artinya ikut jualan di sini insyallah untung,” jawab Nimar yang sehari-hari juga membuka warung di kediamanannya.

Sementara di Kota Pekanbaru sendiri menurut catatan Dinas Pasar, tahun lalu terdata sekitar 300 titik pasar jajanan Ramadhan. Catatan tersebut didapat oleh Dinas Pasar berdasarkan pantauan maupun laporan selama Ramadhan tahun 2012 lalu.

“Meski sebenarnya itu bukan dalam tanggung jawab Dinas Pasar, tapi kita bantu bagaimana supaya terdata dan bisa diupayakan agar pelaksanaannya teratur,” jelas Sadri Ilyas, Kepala Dinas Pasar Pemko Pekanbaru.

Diakui Sadri bahwa pasar jajanan berbuka yang hanya ada setiap bulan puasa tidak bisa dilarang. Namun pengaturannya sebaiknya dilakukan pihak Kecamatan atau Kelurahan dan bekerja sama dengan Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Satlantas. Ketiganya dibutuhkan untuk mengatur masalah ketertiban dan kelancaran lalau lintas. Karena rata-rata pasar jajanan berbuka puasa digelar di pinggir jalan raya maupun di titik-titik keramaian di pemukiman warga.

Karena sudah menjadi rutinitas setiap bulan puasa, pasar jajanan berbuka pun menjadi perhatian Pemko Pekanbaru untuk mengawasi. Hal tersebut terkait dengan kebersihan dan produk-produk makanan atau minuman yang dijual tidak bermasalah dari segi higienitas.

Wali Kota Firdaus MT yang diminta tanggapannya atas keberadaan pasar jajanan berbuka puasa tersebut mengaku perlu pengawasan intensif terhadap higienitas makanan yang dijual. Karena masyarakat konsumen juga harus dilindugi dari resiko kandungan berbahaya yang mungkin terdapat dalam makanan.

“Makanan yang dijual itu juga riskan mengandung zat-zat berbahaya seperti pewarna makanan, pengawet dan masa kadaluarsa dari bahan maupun makanan tyang dijual. Di sini saya kira Dinas Kesehatan atau BPOM bisa turun tangan mengawasi,” jawab Firdaus kepada Pekanbaru MX, Rabu (10/7).


Tetap Di Pasar Sail.

Bila pedagang jajanan lain ikut berburu tempat di pasar-pasar dadakan selama bulan puasa, tidak demikian dengan Ny Rika, salah seorang penjual kue dan jajanan pasar di lantai dasar Pasar Sail. Ia memilih tetap menggelar dagangannya di sana. Selain sudah memiliki banyak pelanggan, Rika juga mengaku tak punya banyak tenaga untuk ikut membuka lapak di pasar dadakan.

“Cukup di sini saja. Biasanya ibu-ibu yang selesai berbelanja ke sini, musti singgah dulu ke konter saya sebelum mereka pulang. Kue dan jajanan pasar yang kita jual lumayan disukai, cocoklah dengan selera orang Pekanbaru," katanya yakin.

Ny Rika yang sudah memulai bisnis kue dan jajanan pasar sejak 1996 ini setiap harinya menawarkan kue aneka jenis dan rasa, termasuk makanan-makanan basah lainnya seperti gorengan yang dihargai Rp 1000 maupun aneka bubur dalam kemasan yang diual antara Rp 5000 hingga Rp 7000. Kue Bolu Upi misalnya ia jual Rp35 ribu untuk ukuran jumbo dan Rp17,5 ribu untuk ukuran sedang.

Aneka kue dan jajanan pasar yang bervariasi tersebut ia produksi sendiri dengan memperhatikan kebersihan dan higienis yang disukai pembeli. Itu pula sebabnya mengapa omsetnya cukup membuatnya bertahan dan meningkatkan ragam produksi kue-kue untuk dijual.

"Kalau hari-hari biasa, alhamdulillah omset saya rata-rata Rp2 juta setiap harinya. Kadang juga kurang dari segitu. Bulan puasa biasanya sama atau kadang-kadang malah naik," tuturnya.[eka satria / antarafoto]