TIDAK jelas siapa yang menciptakan istilah Petang Megang, tidak diketahui pula secara pasti kapan tradisi masyarakat Melayu daratan ini bermula. Namun penuturan beberapa warga masyarakat di sekitar sungai Siak disebutkan bahwa Tradisi Petang Megang sebenarnya merupakan tradisi yang dulu dikenal dengan istilah mandi balimau. Mandi balimau adalah kegiatan menyucikan diri melalui mandi dengan air yang sudah diberi rempah, bunga dan limau (perasan air jeruk). Mandi Balimau tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dan dilakukan seharti sebelum 1 Ramadhan.
"Orang Riau daratan dulu menyebutnya Balimau Kasai, dan orang Riau Kepulauan mengenalnya dengan istilah Mandi Balimau," tutur H. M Said, salah seorang jamaah Masjid Raya Pekanbaru,di kawasan Pasar Bawah. Menurut pria 76 tahun tersebut, tradisi Mandi Balimau sempat hilang beberpa lama karena berbagai sebab.
"Terjadinya percampuran masyarakat, perkawinan orang Melayu dengan orang luar daerah, termasuk kondisi Sungai Siak yang sudah lama kotor. Masyarakat melakukan mandi balimau di rumah masing-masing," kata H M Said.
Perkembangan zaman dan kondisi sosial ekonomi masyarakat kemudian ikut menyurutkan tradisi Petang Megang di kalangan masyarakat pesisir. Tradisi
Petang Megang yang serempak dilakukan di tepian sungai pun lama-lama hilang, banyak masyarakat melayu membuat acara di rumah masing-masing.
Di awal dekade 1990 mencuat kembali ide di kalangan budayawan Riau untuk menghidupkan kembali ritual Petang Megang di Tepian Sungai Siak. Anas Aismana, salah seorang Budayawan Riau kemudian mengagas dilaksanakan kembali tradisi Mandi Balimau yang dikenal dengan nama Petang Megang tersebut.
Ide sederhana ini disambut baik masyarakat Melayu yang bermukim di pesisir Jalan Tanjung Batu, Tanjung Medang, Jalan Sudirman bawah, Jalan Tanjung Datuk, Jalan Tanjung Uban, dan Jalan Sultan Syarif Qasim bawah serta Jalan Sumbersari. Kawasan ini disebut sebagai wilayah Tanjung Rhu.
Bersama sejumlah sejawat yang punya semangat membangun budaya Melayu, Anas memulai menghidupkan prosesi Petang Megang dengan urunan dana seadanya. Meski sederhana, namun prosesi tersebut berhasil ia laksanakan di kawasan Perkampungan Tanjung Rhu, Kelurahan Pesisir, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru.
Maka sejak 1997 ritual Petang Megang yang lebih terkonsep sebagai acara budaya tersebut terus berkembang dan dipertahankan walaupun masih dilaksanakan secara swadaya masyarakat. Seperti diakui Kadisbudpar Pemko Pekanbaru Drs Dastrayani Bibra, M.Si bahwa rangkaian acara Petang Megang memang akan terus dipertahankan sebagai kalender wisata Pekanbaru dan Riau.
"Kita sudah melakukan promosi dan pengenalan kegiatan ini baik di Riau sendiri maupun di tingkat nasional dan luar negeri," ujar Bibra.
Pemko Pekanbaru yang memandang Prosesi Petang Megang sebagai kegiatan budaya dan keagamaan akhirnya menjadikannya sebagai iven pariwisata yang kemudian memusatkan kegiatan acara ke Jembatan Siak I sejak tahun 2000 dengan kemasan yang lebih "menjual".
Pelaksanaan tradisi Petang Megang itu pun dihadiri seluruh pejabat instansi Pemerintah Kota Pekanbaru, tokoh masyarakat, budayawan, tokoh adat, ulama, warga, serta para wisatawan lokal dan luar negeri. Bahkan dalam acara petang megang tersebut, warga pun tumpah-ruah untuk mengikuti acara ini. [eka satria]
"Orang Riau daratan dulu menyebutnya Balimau Kasai, dan orang Riau Kepulauan mengenalnya dengan istilah Mandi Balimau," tutur H. M Said, salah seorang jamaah Masjid Raya Pekanbaru,di kawasan Pasar Bawah. Menurut pria 76 tahun tersebut, tradisi Mandi Balimau sempat hilang beberpa lama karena berbagai sebab.
"Terjadinya percampuran masyarakat, perkawinan orang Melayu dengan orang luar daerah, termasuk kondisi Sungai Siak yang sudah lama kotor. Masyarakat melakukan mandi balimau di rumah masing-masing," kata H M Said.
Perkembangan zaman dan kondisi sosial ekonomi masyarakat kemudian ikut menyurutkan tradisi Petang Megang di kalangan masyarakat pesisir. Tradisi
Petang Megang yang serempak dilakukan di tepian sungai pun lama-lama hilang, banyak masyarakat melayu membuat acara di rumah masing-masing.
Di awal dekade 1990 mencuat kembali ide di kalangan budayawan Riau untuk menghidupkan kembali ritual Petang Megang di Tepian Sungai Siak. Anas Aismana, salah seorang Budayawan Riau kemudian mengagas dilaksanakan kembali tradisi Mandi Balimau yang dikenal dengan nama Petang Megang tersebut.
Ide sederhana ini disambut baik masyarakat Melayu yang bermukim di pesisir Jalan Tanjung Batu, Tanjung Medang, Jalan Sudirman bawah, Jalan Tanjung Datuk, Jalan Tanjung Uban, dan Jalan Sultan Syarif Qasim bawah serta Jalan Sumbersari. Kawasan ini disebut sebagai wilayah Tanjung Rhu.
Bersama sejumlah sejawat yang punya semangat membangun budaya Melayu, Anas memulai menghidupkan prosesi Petang Megang dengan urunan dana seadanya. Meski sederhana, namun prosesi tersebut berhasil ia laksanakan di kawasan Perkampungan Tanjung Rhu, Kelurahan Pesisir, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru.
Maka sejak 1997 ritual Petang Megang yang lebih terkonsep sebagai acara budaya tersebut terus berkembang dan dipertahankan walaupun masih dilaksanakan secara swadaya masyarakat. Seperti diakui Kadisbudpar Pemko Pekanbaru Drs Dastrayani Bibra, M.Si bahwa rangkaian acara Petang Megang memang akan terus dipertahankan sebagai kalender wisata Pekanbaru dan Riau.
"Kita sudah melakukan promosi dan pengenalan kegiatan ini baik di Riau sendiri maupun di tingkat nasional dan luar negeri," ujar Bibra.
Pemko Pekanbaru yang memandang Prosesi Petang Megang sebagai kegiatan budaya dan keagamaan akhirnya menjadikannya sebagai iven pariwisata yang kemudian memusatkan kegiatan acara ke Jembatan Siak I sejak tahun 2000 dengan kemasan yang lebih "menjual".
Pelaksanaan tradisi Petang Megang itu pun dihadiri seluruh pejabat instansi Pemerintah Kota Pekanbaru, tokoh masyarakat, budayawan, tokoh adat, ulama, warga, serta para wisatawan lokal dan luar negeri. Bahkan dalam acara petang megang tersebut, warga pun tumpah-ruah untuk mengikuti acara ini. [eka satria]
