PEKANBARU – Akhirnya komunitas pedagang Pasar Jongkok, Jalan HR Soebrantas memilih caranya sendiri untuk merespon larangan Pemko terhadap aktifitas berdagang mereka di kawasan tersebut. Pedagang memilih menyewa lahan di Jalan Arengka II, sekitar 100 meter dari traffic light Tabek Gadang, Panam. Kamis (20/6) malam para PKL sudah bisa memulai menggelar lapak setelah dilakukan pencabutan undian siang harinya.
Ketua Pembina PKL Pasar Jongkok, Ir Irwanto Msi yang dihubungi Pekanbaru MX membenarkan bahwa seluruh PKL Pasar Jongkok menolak pindah ke lahan relokasi yang disediakan Pemko yakni di Jalan Purwodadi. Mereka memilih menyewa lahan lain di lokasi Jalan Arengka II.
“Betul, kita sudah mendapatkan lokasi baru yang di Jalan Arengka II, luasnya kurang lebih 35 x 80 meter persegi. Kira-kira mampu menampung sekitar 200 lapak. Lahan tersebut kita sewa Rp 50 juta untuk jangka waktu 5 tahun dengan opsi masih ada penambahan lahan.,” jelas Irwanto yang berencana memperkenalkan Pasar Jongkok di lokasi baru tersebut kepada pihak Dinas Pariwisata.
Sewa lapak hanya Rp 500 ribu pertahun
“Kita ingin Pasar Jongkok Wisata Malam ini dimasukkan ke dalam kalender pariwisata Kota Pekanbaru,”jawab Irwanto.
Disebutkan Irwanto bahwa biaya untuk mengontrak tersebut adalah atas tanggung jawab seluruh PKL Pasar Jongkok yang diwadahi dalam sebuah himpunan pedagang Pasar Jongkok Wisata Malam (PJWM). Sementara untuk setiap lapak pengurus PJWM hanya memungut biaya sewa yang sangat murah yakni Rp 500 ribu per tahun. Jika dibandingkan dengan sewa lapak di lokasi Purwodadi yang disediakan Pemko yakni Rp 550 ribu per bulan, jelas terlihat PJWM lebih menguntungkan pedagang.
“Mengapa kita bisa memungut sewa yang murah terhadap pedagang? Karena kepentingan kita bukan bisnis mencarai untung seperti pengelola relokasi yang Purwodadi itu. Kita juga ingin tunjukkan dan buktikan kepada Wali Kota Firdaus MT, kalau memang peduli pedagang dan mau, semuanya bisa koq diusahakan. Selama ini kan tidak, kita mencium ada kepentingan pribadi yang menunggangi kebijakan Pemko,” ujar Irwanto.
Lahan relokasi PKL di Jalan Purwodadi, tak diminati PKL. Terlihat masih belum layak huni
Ketua APKLI Pekanbaru, Averoes menyebutkan relokasi yang diinginkan Wali Kota ke tempat baru di Jalan Purwodadi, ditanggapi sinis pedagang karena penuh dengan bau bisnis terselubung pihak-pihak tertentu. Jika terwujud, lahan di Purwodadi tersebut memang menggiurkan bagi pihak tertentu yang ingin menangguk keuntungan bisnis dari penyewaan lapak-lapak di lahan relokasi.
"Bayangkan keuntungan yang diperoleh, satu lapak Rp 550 ribu per bulan kalikan saja dengan total lapak yang bisa ditampung sekitar 900 an" ujar Averoes tentang lahan relokasi di Purwodadi yang ditengarai dikelola oleh seseorang yang masih kerabat pejabat di Pemko Pekanbaru.[eka satria]
BERITA LAINNYA
“Betul, kita sudah mendapatkan lokasi baru yang di Jalan Arengka II, luasnya kurang lebih 35 x 80 meter persegi. Kira-kira mampu menampung sekitar 200 lapak. Lahan tersebut kita sewa Rp 50 juta untuk jangka waktu 5 tahun dengan opsi masih ada penambahan lahan.,” jelas Irwanto yang berencana memperkenalkan Pasar Jongkok di lokasi baru tersebut kepada pihak Dinas Pariwisata.
Sewa lapak hanya Rp 500 ribu pertahun
“Kita ingin Pasar Jongkok Wisata Malam ini dimasukkan ke dalam kalender pariwisata Kota Pekanbaru,”jawab Irwanto.
Disebutkan Irwanto bahwa biaya untuk mengontrak tersebut adalah atas tanggung jawab seluruh PKL Pasar Jongkok yang diwadahi dalam sebuah himpunan pedagang Pasar Jongkok Wisata Malam (PJWM). Sementara untuk setiap lapak pengurus PJWM hanya memungut biaya sewa yang sangat murah yakni Rp 500 ribu per tahun. Jika dibandingkan dengan sewa lapak di lokasi Purwodadi yang disediakan Pemko yakni Rp 550 ribu per bulan, jelas terlihat PJWM lebih menguntungkan pedagang.
“Mengapa kita bisa memungut sewa yang murah terhadap pedagang? Karena kepentingan kita bukan bisnis mencarai untung seperti pengelola relokasi yang Purwodadi itu. Kita juga ingin tunjukkan dan buktikan kepada Wali Kota Firdaus MT, kalau memang peduli pedagang dan mau, semuanya bisa koq diusahakan. Selama ini kan tidak, kita mencium ada kepentingan pribadi yang menunggangi kebijakan Pemko,” ujar Irwanto.
Ketua APKLI Pekanbaru, Averoes menyebutkan relokasi yang diinginkan Wali Kota ke tempat baru di Jalan Purwodadi, ditanggapi sinis pedagang karena penuh dengan bau bisnis terselubung pihak-pihak tertentu. Jika terwujud, lahan di Purwodadi tersebut memang menggiurkan bagi pihak tertentu yang ingin menangguk keuntungan bisnis dari penyewaan lapak-lapak di lahan relokasi.
"Bayangkan keuntungan yang diperoleh, satu lapak Rp 550 ribu per bulan kalikan saja dengan total lapak yang bisa ditampung sekitar 900 an" ujar Averoes tentang lahan relokasi di Purwodadi yang ditengarai dikelola oleh seseorang yang masih kerabat pejabat di Pemko Pekanbaru.[eka satria]

